LAPORAN SEJARAH
PEMBELAJARAN
LUAR KELAS DI BALAI INFORMASI DAN KONSERVASI KEBUMIAN KARANGSAMBUNG
Disusun oleh:
Nama : Rani Setio
Utami
Kelas
: X2
No.Abs : 28
SMA NEGERI JATILAWANG
PERIODE 2014/2015
BAB 1
PENDAHULUAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya haturkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya
dapat menyelesaikan laporan sejarah mengenai terbentuknya kepulauan Indonesia
melalui bukti-bukti yang ada di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karang
sambung ini dengan tepat waktu.Terimakasih saya ucapkan kepada:
1.
Bapak Ananto Nur Semedi selaku kepala sekolah SMA Negeri
Jatilawang yang telah
mengijinkan
kami melakukan pembelajaran di luar kelas
2.
Ibu Susanti selaku Guru mata pelajaran sejarah.
3.
Bapak Dasirin dan Bapak Yudhoko selaku guru pendamping
4.
Orang tua dan teman-teman yang telah mendukung saya dalam
menyelesaikan laporan ini.
Saya menyadari
bahwa dalam laporan ini terdapat kekurangan, sehingga kami berharap adanya
kritik dan saran dari pembaca agar dapat meningkatkan mutu dari pembuatan laporan di masa yang akan datang.
Semoga laporan
ini dapat berguna untuk menambah wawasan tentang bagaimana proses terbentuknya
kepuluan Indonesia. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang
berkenan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.
Terima kasih
Jatilawang, Maret 2015
Penyusun
BAB II
ISI
A.
STUDY PUSTAKA
1.
ProsesTerbentuknya Kepulauan Indonesia
Diperkirakan
Kepulauan Indonesia terbentuk dari zaman tersier sekira 60 juta tahun lalu. Secara geografis, Indonesia
terletak diantara dua benua (Benua
Asia dan Benua Australia), dan dua
Samudra (samudra Hindia dan samudra Pasifik).
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang
memiliki 13.478 buah pulau. Sebagian wilayah di KepulauanIndonesia merupakan
titik temu diantara tiga lempeng, yaitu lempengIndo-Australia di selatan,
LempengEurasia di utara dan Lempeng Pasifikdi timur. Pergerakan mendatar berupa
pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang dan telah
menyebabkan wilayah Kepulauan Indonesia secara tektonis merupakan wilayah yang sangat
aktif dan labil hingga rawan gempa sepanjang waktu. Pergerakan ketiga lempeng
yang terus berlangsung ,menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia yang merupakan gabungan dari
Benua Eropa, Afrika, dan Asia terpecah menjadi beberapa pulau. Sebagian Benua
Asia bergerak ke selatan membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan Timur, Pulau
Papua, dan sebagian Maluku Tenggara.
Pada
periode pleistosen bagian barat Kepulauan Indonesia masih bergabung dengan
daratan Asia Tenggara, sedangkan bagian timur Kepulauan Indonesia bergabung
dengan daratan Australia. Akibat proses interglasiasi pada periode holosen
sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa tenggelam menjadi laut
dangkal. Kondisi ini menyebabkan pemisahan wilayah Indonesia bagian barat dari
daratan Benua Asia, dan wilayah Indonesia bagian timur dengan daratan Benua
Australia.
2.
Pembentukan Pulau-Pulau Besar di Indonesia
a.
Pulau Sumatra
Pulau
Sumatra terletak di zona tumbukan antar lempeng Indo-Australia dan lempeng
Eurasia, sehingga merupakan wilayah tidak stabil dan rawan gempa. Menurut pakar
geologi, Pulau Sumatra terbentuk dari pecahan Benua Eurasia. Di bagian barart
terdapat deretan Pegunungan Bukit Barisan. Di sebelah utara Bukit Barisan
terdapat danau kawah, yaitu Danau Toba.
b.
Pulau
Jawa
Pulau
Jawa terletak di belahan bui selatan yang membentang dari barat ke timur dengan
panjang sekira 1.000 km serta lebar 200 km. Pulau ini mempunyai deretan gunung
api aktif, seperti Gunung Galunggung di Jawa Barat, dan Gunung Merapi di
perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pulau Jawa merupakan kawasan rawan
gempa. Batuan dasar Pulau Jawa diperkirakan terbentuk pada 70-35 juta tahun
lalu. Batuan dasar di Jawa Barat lebih tua dibanding batuan dasar di Jawa
Tengah dan Jawa Timur.
c.
Pulau
Kalimantan
Pulau
Kalimantan relatif aman dari bencana gempa karena tidak dilewati oleh jalur
lempeng tektonis. Pulau Kalimantan terbentuk dari pecahan Benua raksasa pada
masa awal terbentuknya permukaan bumi.
d.
Pulau Sulawesi
Pulau Sulawesi dan sekitarnya merupakan zona pertemuan tiga
lempeng tektonik. Pulau Sulawesi pernah bergabung dengan daratan Kalimantan,
oleh karena itu , flora dan fauna di Sulawesi sebagian ada yang mirip denga
flora dan fauna yang ada di Kalimantan.
e.
Pulau Papua
Pulau Papua terbentuk dari
sedimen bebatuan yang diendapkan oleh Benua Australia. Pengendapan intensif
Benua Australian akhirnya megangkat sedimen batuan Pulau Papua ke permukaan
laut. Dan kemudian Pulau Papua mulai terpisah dari daratan Australia.
f.
Pulau-pulau kecil
Proses terbentuknya
pulau-pulau ini lebih sederhana dibanding yang lain. Mereka berasal dari
endapan pecahan kerang, koral dan binatang laut lainnya. Semakin lama semakin
besar dan akhirnya terbentuklah sebuah pulau baru.
B.
HASIL OBSERVASI
1.
Gunung Parang/ Wurung
Secara geologi Gunung Parang merupakan intrusi batuan beku
diabas yang berwarna abu-abu terang. Batuan diabas terbentuk dari magma yang
menrobos hingga dekat ke permukaan Warna abu-abu menunjukkan batu diabas ini
termasuk intermedier (antara mafic dan felsic). Adapun yang berwarna coklat
menunjukkan batuan yang sudah tua atau lama.
Batuan diabas ini mengandung dua mineral yaitu mineral piroksen yang
berwarna hitam dan mineral plagioklas yang berwarna putih. Berdasarkan Skala
Mohs, batu diabas ini memiliki kekerasan 4-5 Skala Mohs. Disana juga terdapat struktur kekar tiang
(Colomner Join) yang diakibatkan oleh kontraksi batuan di sekitarnya
2.
Kali Muncar
Kali Muncar merupakan daerah berbukit-bukit, terdapat tiga
jenis batuan yaitu batuan beku vulkanik/basalt, batu rijang dan batu gamping.
Batu rijang merupakan salah satu jenis batuan sedimen pelogikbiogen yang
terbentuk pada laut dalam, yang letaknya selang-seling antara batuan rijang dan
batuan lempung merah, yang mengelilingi terutama batuan gamping merah yang
berlapis-lapi, mengandung ladiolarian, membentuk gumpalan memanjang mengikuti
arah pelapisan. Selanjutnya adalah lava bantal, merupakan batas antara melange
tektonik dengan melange sedimen
3.
Bukit Puncangan
Di lokasi ini terdapat batua berwarna hijau gelap dan
mengkilap yang dinamakan serpentinit. Batu ini adalah batuan dari batuan ultra
basa berwarna gelap. Merupakan hasil dari pembekuan magma pada kerak samudra
4.
Sungai Lokulo
Kali Lokulo,
Desa Wonosobo, Kecamatan Karang Ayam. Sungai Lokulo ini adalah sungai terbesar
yang ada di Kebumen dan sekaligus batas kecamatan antara kecamatan Karang
Sambung dan kecamatan Karang Ayam. Secara morfologi daerah
ini merupakan bentuk perbukitan lipatan yang disebabkan karena proses subduksi.
Secara geologi daerah ini terdiri atas batuan metamorf (filit) dengan sifat
koliasi ekistusiti. Disana
terdapat singkapan batu filit/sabak. Batua filit termasuk batu metamorf yang
terbentuk dipengaruhi oleh tekanan (pressure) dan datuan ini berfoliasi atau
adanya penjajaran mineral. Foliasi ini seharusnya berbentuk horizontal. Namun, karena
dipengaruhi oleh gaya tektonik sehingga berbentuk vertical. Tidak hanya batu filit, di lokasi ketiga ini
terdapat banyak singkapan batuan dari mulai batuan beku, sedimen dan metamorf.
C.
PEMBAHASAN
Keunikan
geologi daerah Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pertama kali
dilaporkan oleh ahli geologi Belanda Ch. E. A. Harloff pada tahun 1933.
Berbagai jenis batuan yang berasal baik dari kerak Samudra maupun dari kerak
Benua, yang umur tertuanya mulai dari Kapur (145 juta tahun lalu) hingga
Holosen terdapat di daerah ini. Para geolog menyebut lapangan
geologi Karangsambung sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia. Daerah ini
merupakan jejak-jejak tumbukan dua lempeng bumi yang terjadi sekira 117- 60
juta tahun lalu. Ia juga merupakan pertemuan lempeng Asia dengan lempeng hindia.
Luk Ulo
merupakan formasi tertua berupa melange yang sangat kompleks, yang umurnya diperkirakan 117 juta tahun. Batuannya meliputi graywacke, lempung hitam,
lava bantal yang beasosiasi dengan rijang dan lempung merah, turbidit klastik,
dan ofiolit yang tersisipkan diantara batuan metamorfose berfasies sekis.
Batuan-batuan tersebut merupakan hasil dari pencampuran secara tektonik pada
jalur penunjaman (subduction zone), yang juga telah melibatkan batuan-batuan
asal kerak samudra dan kerak benua. Kompleks ini dibagi menjadi 2 satuan
berdasarkan dominasi fragmen pada masa dasarnya, yaitu satuan Jatisamit di
sebelah Barat dan satuan Seboro di sebelah Utara. Verbeek (1891), geolog
Belanda, adalah orang yang pertama kali melakukan penelitian di sana, akan
tetapi hasil penelitian ini baru dipetakan secara geologi oleh Harlof pada
tahun 1933.
Kepala
bagian tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi kebumian Karangsambung LIPI mengatakan, beberapa situs bisa dipelajari untuk
mengetahui sejarah Bumi, khususnya proses evolusi lempeng Asia bagian tenggara.
Misalnya, situs batuan metamorf serpentinit di Pucangan. Batuan ini berwarna
kehijauan dan berasal dari perut bumi di bawah lantai samudera. Batu ini
merupakan batu ultrabasa hasil pembekuan magma pada kerak samudera. Formasi
batu ini berubah saat bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk
zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi.
Fenomena
geologi lain adalah situs batu rijang
dan lava basalt berbentuk bantal di kali
Muncar. Batuan sedimen
ini terbentuk di dasar samudra purba 80 juta tahun lampau. Batu ini memberi
fakta kuat bahwa dahulu Karangsambung adalah dasar samudra yang terangkat oleh
proses geologi. Batuan sedimen
berwarna merah memanjang sekitar 100 meter pada dinding Kali Muncar itu ibarat
layar pertunjukan wayang kulit, atau kelir dalam bahasa Jawa. Hal ini membuat
masyarakat setempat menamainya Watu Kelir, apalagi di atasnya terdapat batuan
beku yang bentuknya mirip kenong dan gong. Batuan sedimen merah ini terdiri atas lapisan
rijang dan lapisan lempung merah gampingan. Rijang berwarna merah karena
mengandung unsur besi dan berisi fosil Radiolaria berusia 80 juta tahun atau
Zaman Kapur Atas. Batuan dasar samudra pada kedalaman minimal 4.000 meter ini
seharusnya horizontal, tapi menjadi tegak karena pengaruh tektonik yang
mengangkatnya. Batuan beku di
bagian atasnya adalah lava basal dari gunung berapi di dasar laut. Lava bantal
ini terbentuk pada zona pemekaran dasar samudra, yang langsung membeku ketika
terkena air laut. Batu ini adalah bukti adanya kegiatan vulkanis bawah laut yang
mengakibatkan pemekaran tengah laut.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa daerah
Karangsambung merupakan sebuah kawasan yang digunakan sebagai tempat
pembelajaran geologi yang tepat. Karena daerah Karangsambung mempunyai berbagai
jenis batuan yang sangat kompleks, mulai dari batuan beku yang terdiri dari
diabas dan basalt (lava bantal), batuan sedimen yang terdiri dari Rijang,
Gamping Merak, dan Lempung Bersisik, serta batuan metamorf yang terdiri dari
Serpentinit, Sekis Mika, dan Filit. Karangsambung juga berpotensi sebagai
objek wisata yang bertaraf nasional bahkan internasional. Karangsambung
merupakan Kawasan Taman Geologi Nasional Indonesia yang mempunyai koleksi
batuan terlengkap se-Asia Tenggara, dan sebagian batuan yang ada di
Karangsambung masih merupakan batuan alami, tetapi ada pula yang mengalami
pengikisan.
DAFTAR PUSTAKA
http://Afifblekutuk.blogspot.com/?m=1
Mulyadi dkk.2014. Sejarah Indonesia.
Klaten: PT Intan Pariwara
LAMPIRAN