Jumat, 11 September 2015

laporan sejarah di balai informasi dan konservasi kebumian karangsambu


LAPORAN SEJARAH
PEMBELAJARAN LUAR KELAS DI BALAI INFORMASI DAN KONSERVASI KEBUMIAN KARANGSAMBUNG
















 






















                                               
Disusun oleh:
                                      Nama           : Rani Setio Utami
                                      Kelas           : X2
                                      No.Abs       : 28









SMA NEGERI JATILAWANG
PERIODE 2014/2015




BAB 1
PENDAHULUAN
KATA PENGANTAR
          Puji syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan sejarah mengenai terbentuknya kepulauan Indonesia melalui bukti-bukti yang ada di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karang sambung ini dengan tepat waktu.Terimakasih saya ucapkan kepada:
1.             Bapak Ananto Nur Semedi selaku kepala sekolah SMA Negeri Jatilawang yang telah
          mengijinkan kami melakukan pembelajaran di luar kelas
2.             Ibu Susanti selaku Guru mata pelajaran sejarah.
3.             Bapak Dasirin dan Bapak Yudhoko selaku guru pendamping
4.             Orang tua dan teman-teman yang telah mendukung saya dalam menyelesaikan laporan ini.
          Saya menyadari bahwa dalam laporan ini terdapat kekurangan, sehingga kami berharap adanya kritik dan saran dari pembaca agar dapat meningkatkan mutu dari pembuatan laporan di masa yang akan datang.
          Semoga laporan ini dapat berguna untuk menambah wawasan tentang bagaimana proses terbentuknya kepuluan Indonesia. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.
Terima kasih


                                                                                                   Jatilawang,        Maret 2015


                                                                                                                Penyusun


BAB II
ISI

A.            STUDY PUSTAKA
1.             ProsesTerbentuknya Kepulauan Indonesia
          Diperkirakan Kepulauan Indonesia terbentuk dari zaman tersier sekira 60 juta tahun lalu. Secara geografis, Indonesia terletak diantara dua benua  (Benua Asia dan Benua Australia), dan dua Samudra (samudra Hindia dan samudra Pasifik). Indonesia  merupakan Negara kepulauan yang memiliki 13.478 buah pulau. Sebagian wilayah di KepulauanIndonesia merupakan titik temu diantara tiga lempeng, yaitu lempengIndo-Australia di selatan, LempengEurasia di utara dan Lempeng Pasifikdi timur. Pergerakan mendatar berupa pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang dan telah menyebabkan wilayah Kepulauan Indonesia secara tektonis merupakan wilayah yang sangat aktif dan labil hingga rawan gempa sepanjang waktu. Pergerakan ketiga lempeng yang terus berlangsung ,menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia yang merupakan gabungan dari Benua Eropa, Afrika, dan Asia terpecah menjadi beberapa pulau. Sebagian Benua Asia bergerak ke selatan membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan Timur, Pulau Papua, dan sebagian Maluku Tenggara.
          Pada periode pleistosen bagian barat Kepulauan Indonesia masih bergabung dengan daratan Asia Tenggara, sedangkan bagian timur Kepulauan Indonesia bergabung dengan daratan Australia. Akibat proses interglasiasi pada periode holosen sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa tenggelam menjadi laut dangkal. Kondisi ini menyebabkan pemisahan wilayah Indonesia bagian barat dari daratan Benua Asia, dan wilayah Indonesia bagian timur dengan daratan Benua Australia.

2.             Pembentukan Pulau-Pulau Besar di Indonesia
a.              Pulau Sumatra
Pulau Sumatra terletak di zona tumbukan antar lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, sehingga merupakan wilayah tidak stabil dan rawan gempa. Menurut pakar geologi, Pulau Sumatra terbentuk dari pecahan Benua Eurasia. Di bagian barart terdapat deretan Pegunungan Bukit Barisan. Di sebelah utara Bukit Barisan terdapat danau kawah, yaitu Danau Toba.

b.             Pulau Jawa
Pulau Jawa terletak di belahan bui selatan yang membentang dari barat ke timur dengan panjang sekira 1.000 km serta lebar 200 km. Pulau ini mempunyai deretan gunung api aktif, seperti Gunung Galunggung di Jawa Barat, dan Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pulau Jawa merupakan kawasan rawan gempa. Batuan dasar Pulau Jawa diperkirakan terbentuk pada 70-35 juta tahun lalu. Batuan dasar di Jawa Barat lebih tua dibanding batuan dasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

c.              Pulau Kalimantan
Pulau Kalimantan relatif aman dari bencana gempa karena tidak dilewati oleh jalur lempeng tektonis. Pulau Kalimantan terbentuk dari pecahan Benua raksasa pada masa awal terbentuknya permukaan bumi.

d.             Pulau Sulawesi   
Pulau Sulawesi dan sekitarnya merupakan zona pertemuan tiga lempeng tektonik. Pulau Sulawesi pernah bergabung dengan daratan Kalimantan, oleh karena itu , flora dan fauna di Sulawesi sebagian ada yang mirip denga flora dan fauna yang ada di Kalimantan.




e.              Pulau Papua
Pulau Papua terbentuk dari sedimen bebatuan yang diendapkan oleh Benua Australia. Pengendapan intensif Benua Australian akhirnya megangkat sedimen batuan Pulau Papua ke permukaan laut. Dan kemudian Pulau Papua mulai terpisah dari daratan Australia.

f.                Pulau-pulau kecil
Proses terbentuknya pulau-pulau ini lebih sederhana dibanding yang lain. Mereka berasal dari endapan pecahan kerang, koral dan binatang laut lainnya. Semakin lama semakin besar dan akhirnya terbentuklah sebuah pulau baru.
B.            HASIL OBSERVASI
1.             Gunung Parang/ Wurung
          Secara geologi Gunung Parang merupakan intrusi batuan beku diabas yang berwarna abu-abu terang. Batuan diabas terbentuk dari magma yang menrobos hingga dekat ke permukaan Warna abu-abu menunjukkan batu diabas ini termasuk intermedier (antara mafic dan felsic). Adapun yang berwarna coklat menunjukkan batuan yang sudah tua atau lama.  Batuan diabas ini mengandung dua mineral yaitu mineral piroksen yang berwarna hitam dan mineral plagioklas yang berwarna putih. Berdasarkan Skala Mohs, batu diabas ini memiliki kekerasan 4-5 Skala Mohs. Disana juga terdapat struktur kekar tiang (Colomner Join) yang diakibatkan oleh kontraksi batuan di sekitarnya

2.             Kali Muncar
          Kali Muncar merupakan daerah berbukit-bukit, terdapat tiga jenis batuan yaitu batuan beku vulkanik/basalt, batu rijang dan batu gamping. Batu rijang merupakan salah satu jenis batuan sedimen pelogikbiogen yang terbentuk pada laut dalam, yang letaknya selang-seling antara batuan rijang dan batuan lempung merah, yang mengelilingi terutama batuan gamping merah yang berlapis-lapi, mengandung ladiolarian, membentuk gumpalan memanjang mengikuti arah pelapisan. Selanjutnya adalah lava bantal, merupakan batas antara melange tektonik dengan melange sedimen

3.             Bukit Puncangan
          Di lokasi ini terdapat batua berwarna hijau gelap dan mengkilap yang dinamakan serpentinit. Batu ini adalah batuan dari batuan ultra basa berwarna gelap. Merupakan hasil dari pembekuan magma pada kerak samudra

4.             Sungai Lokulo
          Kali Lokulo, Desa Wonosobo, Kecamatan Karang Ayam. Sungai Lokulo ini adalah sungai terbesar yang ada di Kebumen dan sekaligus batas kecamatan antara kecamatan Karang Sambung dan kecamatan Karang Ayam. Secara morfologi daerah ini merupakan bentuk perbukitan lipatan yang disebabkan karena proses subduksi. Secara geologi daerah ini terdiri atas batuan metamorf (filit) dengan sifat koliasi ekistusiti. Disana terdapat singkapan batu filit/sabak. Batua filit termasuk batu metamorf yang terbentuk dipengaruhi oleh tekanan (pressure) dan datuan ini berfoliasi atau adanya penjajaran mineral. Foliasi ini seharusnya  berbentuk horizontal. Namun, karena dipengaruhi oleh gaya tektonik sehingga berbentuk vertical. Tidak hanya batu filit, di lokasi ketiga ini terdapat banyak singkapan batuan dari mulai batuan beku, sedimen dan metamorf.


C.            PEMBAHASAN

          Keunikan geologi daerah Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pertama kali dilaporkan oleh ahli geologi Belanda Ch. E. A. Harloff pada tahun 1933. Berbagai jenis batuan yang berasal baik dari kerak Samudra maupun dari kerak Benua, yang umur tertuanya mulai dari Kapur (145 juta tahun lalu) hingga Holosen terdapat di daerah ini. Para geolog menyebut lapangan geologi Karangsambung sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia. Daerah ini merupakan jejak-jejak tumbukan dua lempeng bumi yang terjadi sekira 117- 60 juta tahun lalu. Ia juga merupakan pertemuan lempeng Asia dengan lempeng hindia. Luk Ulo merupakan formasi tertua berupa melange yang sangat kompleks, yang umurnya diperkirakan 117 juta tahun. Batuannya meliputi graywacke, lempung hitam, lava bantal yang beasosiasi dengan rijang dan lempung merah, turbidit klastik, dan ofiolit yang tersisipkan diantara batuan metamorfose berfasies sekis. Batuan-batuan tersebut merupakan hasil dari pencampuran secara tektonik pada jalur penunjaman (subduction zone), yang juga telah melibatkan batuan-batuan asal kerak samudra dan kerak benua. Kompleks ini dibagi menjadi 2 satuan berdasarkan dominasi fragmen pada masa dasarnya, yaitu satuan Jatisamit di sebelah Barat dan satuan Seboro di sebelah Utara. Verbeek (1891), geolog Belanda, adalah orang yang pertama kali melakukan penelitian di sana, akan tetapi hasil penelitian ini baru dipetakan secara geologi oleh Harlof pada tahun 1933.
           Kepala bagian tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi kebumian Karangsambung LIPI mengatakan, beberapa situs bisa dipelajari untuk mengetahui sejarah Bumi, khususnya proses evolusi lempeng Asia bagian tenggara. Misalnya, situs batuan metamorf serpentinit di Pucangan. Batuan ini berwarna kehijauan dan berasal dari perut bumi di bawah lantai samudera. Batu ini merupakan batu ultrabasa hasil pembekuan magma pada kerak samudera. Formasi batu ini berubah saat bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi.
          Fenomena geologi lain adalah situs batu rijang dan lava basalt  berbentuk bantal di kali Muncar. Batuan sedimen ini terbentuk di dasar samudra purba 80 juta tahun lampau. Batu ini memberi fakta kuat bahwa dahulu Karangsambung adalah dasar samudra yang terangkat oleh proses geologi. Batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter pada dinding Kali Muncar itu ibarat layar pertunjukan wayang kulit, atau kelir dalam bahasa Jawa. Hal ini membuat masyarakat setempat menamainya Watu Kelir, apalagi di atasnya terdapat batuan beku yang bentuknya mirip kenong dan gong. Batuan sedimen merah ini terdiri atas lapisan rijang dan lapisan lempung merah gampingan. Rijang berwarna merah karena mengandung unsur besi dan berisi fosil Radiolaria berusia 80 juta tahun atau Zaman Kapur Atas. Batuan dasar samudra pada kedalaman minimal 4.000 meter ini seharusnya horizontal, tapi menjadi tegak karena pengaruh tektonik yang mengangkatnya. Batuan beku di bagian atasnya adalah lava basal dari gunung berapi di dasar laut. Lava bantal ini terbentuk pada zona pemekaran dasar samudra, yang langsung membeku ketika terkena air laut. Batu ini adalah bukti adanya kegiatan vulkanis bawah laut yang mengakibatkan pemekaran tengah laut.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
           
            Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa daerah Karangsambung merupakan sebuah kawasan yang digunakan sebagai tempat pembelajaran geologi yang tepat. Karena daerah Karangsambung mempunyai berbagai jenis batuan yang sangat kompleks, mulai dari batuan beku yang terdiri dari diabas dan basalt (lava bantal), batuan sedimen yang terdiri dari Rijang, Gamping Merak, dan Lempung Bersisik, serta batuan metamorf yang terdiri dari Serpentinit, Sekis Mika, dan Filit. Karangsambung juga berpotensi sebagai objek wisata yang bertaraf nasional bahkan internasional. Karangsambung merupakan Kawasan Taman Geologi Nasional Indonesia yang mempunyai koleksi batuan terlengkap se-Asia Tenggara, dan sebagian batuan yang ada di Karangsambung masih merupakan batuan alami, tetapi ada pula yang mengalami pengikisan.


DAFTAR PUSTAKA

http://Afifblekutuk.blogspot.com/?m=1



Mulyadi dkk.2014. Sejarah Indonesia.  Klaten: PT Intan Pariwara


LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar